Meskipun sore dan malam Bandung kerap diguyur hujan, matahari begitu semangat menyinari kota Bandung pada pagi dan siang harinya. Panas, terik, kering dan gerah. Begitu mendengar kata-kata tersebut pasti pikiran kita langsung tertuju kepada sesuatu yang dingin, segar dan meredakan dahaga. Ice cream! Satu nama yang akan terbersit dan pas kiranya memuaskan selera.
Sebagai surga kuliner, Bandung juga memiliki tempat-tempat yang menjual es krim yang jempolan dan patut dicicipi. Mari kita intip sedikit ulasan tentang beberapa tempat yang menjual Ice cream di bawah ini.
1. Ice cream tempo dulu
Nostalgia, klasik dan bernuansa “jadul” alias jaman dulu. Hal-hal ini menjadi daya tarik dari kedai-kedai Ice cream ini. Kebanyakan orang datang karena sensasi nostalgia seakan-akan menjadi mesin waktu yang membawa kita berkelana ke masa lalu. Rasa Ice cream - nya pun klasik, dibuat dari cita rasa dan resep asli nenek moyang daratan Eropa yang sudah turun temurun, menjadikan tempat-tempat ini terkenal. Kunjungi PT. Rasa di Jalan Tamblong, Sumber Hidangan serta Braga Permai di Jalan Braga, Cafe Milan yang terletak di Jalan Pelajar Pejuang, dan I Scream For Ice Cream di Jl. Hariangbanga (dekat Jl. Taman Sari). Ajak pula papa-mama dan opa-oma untuk bereuni ke masa kejayaan dahulu di sini. Bergaya vintage pun sah-sah saja jadi tambahan atribut berwisata kuliner Ice cream jadul ini.
2. Ice cream terobosan baru
Berbeda dengan tempat eskrim sebelumnya, Ice cream yang dihidangkan merupakan inovasi dengan ide-ide kreatif yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Salah satu tempat yang menyajikan Ice cream aneh dan unik yang hanya dapat ditemukan di Kota Kembang ini adalah Sub7ero Frozen, yang terletak di Jl. Saturnus Tengah, komplek Margahayu Permai Bandung. Pilihan rasa tak biasa, seperti keju cheddar yang asin dan lada hitam yang pedas, menjadi andalan usaha Ice cream yang sukses menyebar dari mulut ke mulut ini. Satu kreasi unik lain adalah Ice cream goreng. Kedengarannya aneh karena namanya begitu kontradiktif. Namun, penganan ini sebenarnya adalah Ice cream yang penyajiannya dijepit di antara roti goreng. Renyah sekaligus menyegarkan, ditambah taburan kacang dan saus coklat yang membuat rasanya makin nendang. Kunjungi Cafe Tomat di Jl. Ir. H. Djuanda dekat Terminal Dago untuk mengulik rasa istimewa Ice cream goreng ini.
3. Ice cream tradisional
Ice cream khas Indonesia, dan lebih tepatnya khas Bandung. Salah satu contoh es krim tradisional ini adalah es lilin (atau ada juga yang menyebutnya es goyang karena pembuatannya digoyang di dalam gerobak). Es Lilin yang populer dapat dibeli di Jl. Cimandiri dan Jl. Lengkong Besar. Rasa tak kalah lezat dengan es krim modern, beserta harga murah meriah dan kenangan yang melekat erat akan mendorong penggemarnya untuk memburu ke setiap sudut kota Bandung.
Sumber : bandungreview.com
Lihat juga:
Sour Sally
Burger King
Minggu, 21 November 2010
Uniknya Soto Bakso
Berbagai jenis Soto mungkin sudah biasa dijumpai di pelosok Nusantara, sebagai salah satu hidangan berkuah dengan berbagai variasi menu pilihan seperti soto ayam, daging, dan babat.
Berbeda halnya dengan penyajian jenis soto yang disajikan di warung Pak Saeton yang terletak di Jalan Barong 156, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Soto ini disajikan dengan campuran bakso, orang Banyuwangi biasa menyebutnya soto bakso. Bentuk penyajiannya pun sama dengan soto dan bakso pada umumnya, dengan pelengkap mi dan bihun, sedikit bawang goreng dan seledri yang kemudian dicampur kuah soto bakso.
Gambaran yang terlihat menonjol dalam penyajian makanan ini memang warna kuning soto, sehingga kalau dilihat seperti jenis soto pada umumnya.
Orang baru bisa bilang beda, jika sudah merasakan hidangan tersebut. Rasanya, tidak kalah nikmat dengan soto ayam, daging, ataupun babat.
Pertama saat menikmati soto bakso yang terasa menonjol kuahnya, rasanya begitu luar biasa seperti makan bakso yang dicampur soto. Penggabungan kuah soto dan bakso itu begitu melekat dilidah, sehingga menciptakan kelezatan bagi penikmatnya.
Kenikmatan itu ditambah dengan sajian pentol daging, ceker ayam, kepala ayam, dan balungan sapi yang dicampur jeroan.
Bagi penikmat tidak harus memilih semua menu pelengkap soto bakso karena makanan ini bakal membuat perut ekstra kenyang, tetapi pembeli biasa mencampur menu sesuai selera.
Biasanya mereka mencampur soto bakso antara pentol daging ditambah ceker dan kepala ayam, ada juga pembeli yang hanya ingin menikmati balungan bercampur jeroan sapi.
Soto bakso ini bisa disantap dengan nasi ataupun lontong.
Rahasia kenikmatan soto bakso ini berasal dari kuahnya, perpaduan bumbu soto yang di antaranya terdiri dari sere, kunir, laos, jahe, bawang putih, bawang merah, merica, dicampur dengan kuah kaldu bakso yang berasal dari rendaman balungan dan daging sapi.
Setiap hari pemilik warung selalu menyiapkan kepala ayam 10 kilogram, dan ceker ayam 10 kg, daging untuk membuat pentol 14 kg, dan balungan sapi hingga 20 kg.
Hasilnya, hampir setiap hari warung Pak Saeton yang buka mulai pukul 11.00 - 17.00 WIB selalu penuh dengan pengunjung, bahkan setiap hari biasanya bisa menghabiskan hingga 700 mangkok.
Untuk harga soto bakso per porsi sesuai dengan banyaknya menu yang dipilih. Untuk menu biasa, pentol dicampur ceker dan kepala ayam, pembeli cukup membayar Rp5 ribu.
Bentuk keberhasilan Pak Saeton memadukan dua rasa bakso dan soto menjadi soto bakso semula sempat diragukan, apa nanti produk olahannya bisa diterima di masyarakat. Apalagi umumnya lidah masyarakat Banyuwangi begitu peka dengan setiap masakan.
"Orang Banyuwangi itu selalu memilih dan cerewet dengan masakan, apabaila masakan tidak enak, ya daganganya tidak laku dijual," kata pria kelahiran 68 tahun silam ini.
Menurut Pak Saeton ketika itu ide tersebut muncul karena ingin membuat menu yang berbeda, baik bagi hobi penikmat kuliner bakso maupun soto. Jadi orang bisa merasakan kedua makanan tersebut, soto sekaligus bakso.
Semula memang begitu aneh didengar bakso dicampur soto, karena selama ini di Banyuwangi hanya dikenal rujak soto, namun karena ingin beda, Pak Saeton mencoba nekad melakukan terobosan mencapur keduanya.
Pertama buka usaha pada tahun 1971 warung soto bakso belum banyak dikenal dan diketahui masyarakat "Bumi Blambangan". Namun, lambat laun warung tersebut mulai banyak dikunjungi pembeli.
"Pertama buka warung sepi, warung mulai ramai pembeli itu karena disebarkan dari mulut ke mulut dari orang orang yang sudah mencobanya," paparnya.
Kini perjuangan menciptakan menu berbeda memadukan soto dan bakso yang dimulai sejak 39 tahun silam yang dilakukan Pak Saeton tidak sia-sia, bahkan tidak hanya dikenal oleh warga Banyuwangi, namun warga luar, seperti dari Jakarta, Malang, Surabaya juga seringkali mampir untuk menikmati soto bakso Pak Saeton.
Ramainya pembeli yang mampir ke warungnya menjadikan hasil omset penjualannya per hari bisa memperoleh keuntungan mencapai Rp3,5 juta.
Sumber : Fachrur Rozi - antarajatim.com
Lihat juga :
Hanamasa
Sate
Berbeda halnya dengan penyajian jenis soto yang disajikan di warung Pak Saeton yang terletak di Jalan Barong 156, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Soto ini disajikan dengan campuran bakso, orang Banyuwangi biasa menyebutnya soto bakso. Bentuk penyajiannya pun sama dengan soto dan bakso pada umumnya, dengan pelengkap mi dan bihun, sedikit bawang goreng dan seledri yang kemudian dicampur kuah soto bakso.
Gambaran yang terlihat menonjol dalam penyajian makanan ini memang warna kuning soto, sehingga kalau dilihat seperti jenis soto pada umumnya.
Orang baru bisa bilang beda, jika sudah merasakan hidangan tersebut. Rasanya, tidak kalah nikmat dengan soto ayam, daging, ataupun babat.
Pertama saat menikmati soto bakso yang terasa menonjol kuahnya, rasanya begitu luar biasa seperti makan bakso yang dicampur soto. Penggabungan kuah soto dan bakso itu begitu melekat dilidah, sehingga menciptakan kelezatan bagi penikmatnya.
Kenikmatan itu ditambah dengan sajian pentol daging, ceker ayam, kepala ayam, dan balungan sapi yang dicampur jeroan.
Bagi penikmat tidak harus memilih semua menu pelengkap soto bakso karena makanan ini bakal membuat perut ekstra kenyang, tetapi pembeli biasa mencampur menu sesuai selera.
Biasanya mereka mencampur soto bakso antara pentol daging ditambah ceker dan kepala ayam, ada juga pembeli yang hanya ingin menikmati balungan bercampur jeroan sapi.
Soto bakso ini bisa disantap dengan nasi ataupun lontong.
Rahasia kenikmatan soto bakso ini berasal dari kuahnya, perpaduan bumbu soto yang di antaranya terdiri dari sere, kunir, laos, jahe, bawang putih, bawang merah, merica, dicampur dengan kuah kaldu bakso yang berasal dari rendaman balungan dan daging sapi.
Setiap hari pemilik warung selalu menyiapkan kepala ayam 10 kilogram, dan ceker ayam 10 kg, daging untuk membuat pentol 14 kg, dan balungan sapi hingga 20 kg.
Hasilnya, hampir setiap hari warung Pak Saeton yang buka mulai pukul 11.00 - 17.00 WIB selalu penuh dengan pengunjung, bahkan setiap hari biasanya bisa menghabiskan hingga 700 mangkok.
Untuk harga soto bakso per porsi sesuai dengan banyaknya menu yang dipilih. Untuk menu biasa, pentol dicampur ceker dan kepala ayam, pembeli cukup membayar Rp5 ribu.
Bentuk keberhasilan Pak Saeton memadukan dua rasa bakso dan soto menjadi soto bakso semula sempat diragukan, apa nanti produk olahannya bisa diterima di masyarakat. Apalagi umumnya lidah masyarakat Banyuwangi begitu peka dengan setiap masakan.
"Orang Banyuwangi itu selalu memilih dan cerewet dengan masakan, apabaila masakan tidak enak, ya daganganya tidak laku dijual," kata pria kelahiran 68 tahun silam ini.
Menurut Pak Saeton ketika itu ide tersebut muncul karena ingin membuat menu yang berbeda, baik bagi hobi penikmat kuliner bakso maupun soto. Jadi orang bisa merasakan kedua makanan tersebut, soto sekaligus bakso.
Semula memang begitu aneh didengar bakso dicampur soto, karena selama ini di Banyuwangi hanya dikenal rujak soto, namun karena ingin beda, Pak Saeton mencoba nekad melakukan terobosan mencapur keduanya.
Pertama buka usaha pada tahun 1971 warung soto bakso belum banyak dikenal dan diketahui masyarakat "Bumi Blambangan". Namun, lambat laun warung tersebut mulai banyak dikunjungi pembeli.
"Pertama buka warung sepi, warung mulai ramai pembeli itu karena disebarkan dari mulut ke mulut dari orang orang yang sudah mencobanya," paparnya.
Kini perjuangan menciptakan menu berbeda memadukan soto dan bakso yang dimulai sejak 39 tahun silam yang dilakukan Pak Saeton tidak sia-sia, bahkan tidak hanya dikenal oleh warga Banyuwangi, namun warga luar, seperti dari Jakarta, Malang, Surabaya juga seringkali mampir untuk menikmati soto bakso Pak Saeton.
Ramainya pembeli yang mampir ke warungnya menjadikan hasil omset penjualannya per hari bisa memperoleh keuntungan mencapai Rp3,5 juta.
Sumber : Fachrur Rozi - antarajatim.com
Lihat juga :
Hanamasa
Sate
Selasa, 16 November 2010
Casillero Wine
This is the third of the Carmenere Wine I tasted this month. As I stated in my previous two articles, Carmenere is one of the wines I've pushed aside in the past, but have placed on a list to re-examine in 2010. The first two left me with mixed feelings about the wine. The Arboleda 2006 was more full bodied with lots of earth, green pepper and tobacco. It lacked any fruit with the exception of some black current or some black raspberry in the mouth. The Concha y Toro Marques de Concha Casa 2007 was much different with more fruit aromas and less earth and tobacco. Although I would like to try the Arboleda with a thick grilled steak, the Marques de Concha Casa was more versatile and would do well with chicken, stews, burgers and pizza.
Tonight I uncorked another Carmenere from Concha y Toro, the Casillero del Diablo 2008 Reserve. Again I found something much different than the previous two, maybe a bit in-between.
There was a little dark cherry and blueberry hidden under the aromas of tobacco and chocolate. The mouth was offering the same with a little spice leading to a dry, but peppery finish. I did enjoy this with some Muenster and Dubliner cheese. The price was also right for this one, at $10 you can't go wrong.
The Marques de Concha Casa, at $20, was definitely the best of the three, although the Casillero del Diablo was a great buy. I'm still not sold on Carmenere. In a few months I will try another three and hopefully three more before the year ends. It'll be fun!!! (whywineblog)
Tonight I uncorked another Carmenere from Concha y Toro, the Casillero del Diablo 2008 Reserve. Again I found something much different than the previous two, maybe a bit in-between.
There was a little dark cherry and blueberry hidden under the aromas of tobacco and chocolate. The mouth was offering the same with a little spice leading to a dry, but peppery finish. I did enjoy this with some Muenster and Dubliner cheese. The price was also right for this one, at $10 you can't go wrong.
The Marques de Concha Casa, at $20, was definitely the best of the three, although the Casillero del Diablo was a great buy. I'm still not sold on Carmenere. In a few months I will try another three and hopefully three more before the year ends. It'll be fun!!! (whywineblog)
Senin, 15 November 2010
Ice cream and Woman's Fertility
Beneath the Ice cream is a delicacy of the adverse effects that may not have a lot of people know, which reduces fertility. Ah, the time anyway? Although somewhat hard to believe, but a study made by researchers from the Nurses Health Study at Harvard School of Public Health, the U.S., it said that too much ice cream and other food products containing milk could increase the risk of infertility.
According to the researchers, women who ate two or more foods containing milk every day, tend to be difficult to conceive in the absence of ovulation. Meanwhile, those who eat fatty foods and milk once a day, only 27 percent are experiencing this problem. The results are reported in the European journal Human Reproduction this week.
But researchers also cautioned that the results of this research should not be trusted one hundred percent because of this research is only based on interviews with female respondents, rather than scientific research that specifically examines Ice cream. "The core of the publication of the results of this research is that women do not consume too much ice cream every day," said lead researcher, Dr. Jorge Chavarro from Harvard.
The results of this study was also questioned by the researchers themselves. According to them, the researchers were not able to find links between infertiliti and dairy products in general. "The weight that is too extreme, either too thin or too fat, which would increase the risk of difficult pregnancy," says Dr.William Gibbons, president of the Society for Assisted Reproductive Technology. According to him, overeating is not good, but too strict diet as well as bad for the process of reproduction. (Indonesiaindonesia - doktersehat.com)
See also:
Sate
Sushi
According to the researchers, women who ate two or more foods containing milk every day, tend to be difficult to conceive in the absence of ovulation. Meanwhile, those who eat fatty foods and milk once a day, only 27 percent are experiencing this problem. The results are reported in the European journal Human Reproduction this week.
But researchers also cautioned that the results of this research should not be trusted one hundred percent because of this research is only based on interviews with female respondents, rather than scientific research that specifically examines Ice cream. "The core of the publication of the results of this research is that women do not consume too much ice cream every day," said lead researcher, Dr. Jorge Chavarro from Harvard.
The results of this study was also questioned by the researchers themselves. According to them, the researchers were not able to find links between infertiliti and dairy products in general. "The weight that is too extreme, either too thin or too fat, which would increase the risk of difficult pregnancy," says Dr.William Gibbons, president of the Society for Assisted Reproductive Technology. According to him, overeating is not good, but too strict diet as well as bad for the process of reproduction. (Indonesiaindonesia - doktersehat.com)
See also:
Sate
Sushi
Cowboy Steak & Cocktails in Prague
Cowboys Steak & Cocktails is one of Prague's premier steakhouses, serving excellent cuisine and fine wines in the historic Lesser Town (Mala Strana) area of the city.
Cowboys is set in spacious 17th century cellars. Clever lighting and large mirrors bring out the contours in the exposed brickwork, while leather and cowhide upholstery provide comfortable seating in a modern, open plan environment.
Cowboys menu features fine cuts of meat shipped from Uruguay, Brazil and the USA.
Starters include tiger prawns, grilled octopus and crispy chicken strips. Amongst the desserts are good American homemade cheesecakes and chocolate fondants.
The wine list is extensive, and includes a number of expensive international wines. Although, there are some fine Czech wines at the lower end too. Whatever you order should be good - Cowboys has its own dedicated wine buyer.
The atmosphere at Cowboys is relaxed. The background tunes are kept low to allow for conversation. There is also an in-house cocktail bar, which gets lively at weekends. This is ideal for a drink before or after dinner, with a range of cocktails and shots to choose from.
From April to September guests can dine on the heated rooftop terrace, which offers exceptional panoramic views over Prague. This makes Cowboys a fine stop for lunch after a visit to Prague Castle, or for dinner to admire the beauty of Prague as dusk rolls in and the city lights up. For colder nights, the terrace has a heated conservatory area.
Cowboys is a good restaurant and worth a visit even for those not staying in the Lesser Town area. It is a ten minute stroll from Charles Bridge up Nerudova street, in the direction of Prague Castle.
Cowboys is more than a steakhouse. The menu is varied and appeals to groups of all tastes and ages, for leisure and for business. In warmer months the rooftop terrace adds another dimension. This is a great place for a group get-together. Advance reservations are essential. (pragueexperience.com)
See also:
Hanamasa
Soto
Cowboys is set in spacious 17th century cellars. Clever lighting and large mirrors bring out the contours in the exposed brickwork, while leather and cowhide upholstery provide comfortable seating in a modern, open plan environment.
Cowboys menu features fine cuts of meat shipped from Uruguay, Brazil and the USA.
Starters include tiger prawns, grilled octopus and crispy chicken strips. Amongst the desserts are good American homemade cheesecakes and chocolate fondants.
The wine list is extensive, and includes a number of expensive international wines. Although, there are some fine Czech wines at the lower end too. Whatever you order should be good - Cowboys has its own dedicated wine buyer.
The atmosphere at Cowboys is relaxed. The background tunes are kept low to allow for conversation. There is also an in-house cocktail bar, which gets lively at weekends. This is ideal for a drink before or after dinner, with a range of cocktails and shots to choose from.
From April to September guests can dine on the heated rooftop terrace, which offers exceptional panoramic views over Prague. This makes Cowboys a fine stop for lunch after a visit to Prague Castle, or for dinner to admire the beauty of Prague as dusk rolls in and the city lights up. For colder nights, the terrace has a heated conservatory area.
Cowboys is a good restaurant and worth a visit even for those not staying in the Lesser Town area. It is a ten minute stroll from Charles Bridge up Nerudova street, in the direction of Prague Castle.
Cowboys is more than a steakhouse. The menu is varied and appeals to groups of all tastes and ages, for leisure and for business. In warmer months the rooftop terrace adds another dimension. This is a great place for a group get-together. Advance reservations are essential. (pragueexperience.com)
See also:
Hanamasa
Soto
Dim Sum ala Naomi
Dahulu kala Dim Sum disajikan hanya untuk teman minum teh pagi hingga siang hari. Bahkan penyajiannya hanya dibatasi hingga pukul 15.00. Namun dalam perkembangannya dim sum bisa dinikmati kapan saja.
Realitas ini pula yang membuat Lea Naomi Risamasu atau kerap disapa Naomi Molukas memberanikan diri membuat kedai dim sum dengan nama 3 Dim Sum. Kedai ini dibuatnya bersama seorang rekannya Angga Kusuma Wijaya di kawasan Mid point, Senayan, Jakarta Selatan.Persiapan uncuk membuka tempat usahanya ini memang tergolong singkat. Hanya dalam waktu sebulan dia mempersiapkan semuanya. Apalagi, pemilihan tempat berawal saat dia sering nongkrong di kawasan tersebut. Kala itu dia melihat di tempat itu selalu banyak orang yang datang hanya sekadar ngobrol dan minum
"Akhirnya saya melihat ada satu konter kosong dan saya membuat suatu usaha makanan yang tujuannya sebagai teman ngobrol-ngobrol mereka yang nongkrong," ucapnya.Untuk semua bahan-bahan dim sum. mcnurut Naomi, pihaknya melakukan kerja sama dengan supplier. Ia mengambil semua bahan yang telah jadi untuk dijualnya. Suplier yang dijadikan rekanannya berasal dari kawasan Kedoya Jakarta Barat.Naomi menambahkan, usahanya ini memang sekadar tambahan saja. Namun tidak menutup kemungkinan dengan berjalannya waktu dia berharap usahanya akan berkembang dan mempunyai cabang.Setidaknya ada 16 menu yang ditawarkan di kedainya yang relatif masih sederhana. Walaupun sederhana Naomi sangat meyakini tempatnya ini dilirik banyak orang.
Apalagi, sasarannya orang-orang yang datang sekadar nongkrong atau meeting di tempat itu."Kalau orang meeting atau nongkrong biasanya tidak membutuhkan makanan berat. Jadi aku menawarkan cemilan atau menu ringan yang lezat," ungkapnya.Kedai 3Dim Sum memang tidak menyediakan banyak tempat duduk. Kendati demikian enam pekerjanya mempunyai kemahiran professional dalam menyajikan dan menghidangkan dim sum. Terbukti walaupun baru buka tidak lebih dari dua pekan. pelanggan yang datang sudah terbilang lumayan. Setiap harinya kedai ini mampu menjual tidak kurang dari 20 porsi? item yang ada.
Kesusksesan usahanya ini bukan hanya semata faktor tempat yang sangat strategis. Namun juga harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk semua porsi yang ditawarkan dibandrol dengan harga Rpl2.000. Semua menu tersebut bisa dikatakan halal dan rasanya sangat lezat. Kedai ini sendiri mulai buka dari pukul 13.00 hingga 24.00.Selain melayani pembeli yang langsung menikmati langsung ditempat. Kedai 3Dim Sum juga melayani pesanan antar dalam bentuk catering. (bataviase.co.id)
Lihat juga :
Burger King
Sour Sally
Realitas ini pula yang membuat Lea Naomi Risamasu atau kerap disapa Naomi Molukas memberanikan diri membuat kedai dim sum dengan nama 3 Dim Sum. Kedai ini dibuatnya bersama seorang rekannya Angga Kusuma Wijaya di kawasan Mid point, Senayan, Jakarta Selatan.Persiapan uncuk membuka tempat usahanya ini memang tergolong singkat. Hanya dalam waktu sebulan dia mempersiapkan semuanya. Apalagi, pemilihan tempat berawal saat dia sering nongkrong di kawasan tersebut. Kala itu dia melihat di tempat itu selalu banyak orang yang datang hanya sekadar ngobrol dan minum
"Akhirnya saya melihat ada satu konter kosong dan saya membuat suatu usaha makanan yang tujuannya sebagai teman ngobrol-ngobrol mereka yang nongkrong," ucapnya.Untuk semua bahan-bahan dim sum. mcnurut Naomi, pihaknya melakukan kerja sama dengan supplier. Ia mengambil semua bahan yang telah jadi untuk dijualnya. Suplier yang dijadikan rekanannya berasal dari kawasan Kedoya Jakarta Barat.Naomi menambahkan, usahanya ini memang sekadar tambahan saja. Namun tidak menutup kemungkinan dengan berjalannya waktu dia berharap usahanya akan berkembang dan mempunyai cabang.Setidaknya ada 16 menu yang ditawarkan di kedainya yang relatif masih sederhana. Walaupun sederhana Naomi sangat meyakini tempatnya ini dilirik banyak orang.
Apalagi, sasarannya orang-orang yang datang sekadar nongkrong atau meeting di tempat itu."Kalau orang meeting atau nongkrong biasanya tidak membutuhkan makanan berat. Jadi aku menawarkan cemilan atau menu ringan yang lezat," ungkapnya.Kedai 3Dim Sum memang tidak menyediakan banyak tempat duduk. Kendati demikian enam pekerjanya mempunyai kemahiran professional dalam menyajikan dan menghidangkan dim sum. Terbukti walaupun baru buka tidak lebih dari dua pekan. pelanggan yang datang sudah terbilang lumayan. Setiap harinya kedai ini mampu menjual tidak kurang dari 20 porsi? item yang ada.
Kesusksesan usahanya ini bukan hanya semata faktor tempat yang sangat strategis. Namun juga harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk semua porsi yang ditawarkan dibandrol dengan harga Rpl2.000. Semua menu tersebut bisa dikatakan halal dan rasanya sangat lezat. Kedai ini sendiri mulai buka dari pukul 13.00 hingga 24.00.Selain melayani pembeli yang langsung menikmati langsung ditempat. Kedai 3Dim Sum juga melayani pesanan antar dalam bentuk catering. (bataviase.co.id)
Lihat juga :
Burger King
Sour Sally
Sate Tiram Putih
Anda penyuka Sate daging kambing, ayam, sapi atau kuda. Kali ini ada sensasi Sate dengan bahan jamur tiram putih. Selain rasanya gurih dan lezat, manfaatnya bagi tubuh diyakini tak menimbulkan penyakit berbahaya.
Bila Anda warga Kediri bisa menikmati hidangan Sate jamur tiram putih, di depan Mapolsek Grogol, Kabupaten Kediri Jalan Raya Kediri-Nganjuk. Penjual menjajakan dagangannya menggunakan vespa yang dimodifikasi layaknya sebuah gerobak PKL.
"Dulu dengan vespa ini saya bisa jualan keliling, berhenti di mana saja saya suka. Tapi sudah hampir setahun ini saya menetap di sini, karena memang langganan mulai ada," kata Arbani, sang menjual Sate jamur tiram putih kepada detiksurabaya.com yang menemui di gerobaknya, Sabtu (23/10/2010).
Tentang Sate jamur tiram putih dagangannya, Arbani mengaku memulainya dengan menjual masakan jadi dari kantor ke kantor. Usaha ini merupakan pengembangan atas budidaya jamur tiram putih yang dilakukan di rumah. Dengan dalih omzet penjualan tak besar, dia memberanikan diri banting setir mengubahnya menjadi warung, dengan pengolahan Sate dilakukan berdasarkan pesanan.
"Cuman jamurnya saya rebus dan bumbui di rumah. Selebihnya mulai dari memotong, menusuk dan membakar saya lakukan berdasarkan pesanan," jelas Arbani.
Untuk manfaat mengkonsumsi Sate jamur tiram dagangannya, Arbani mengklaim tidak menghadirkan penyakit berbahaya bagi yang mengkonsumsinya. Selain diolah secara higienis, jamur tiram merupakan jenis tanaman dipastikan beda dengan daging yang dapat dipastikan mengandung kolestrol tinggi.
Harga Sate jamur tiram putih juga sangat terjangkau oleh semua kalangan, karena dijual seharga Rp 5.000 untuk setiap porsi.
"Ini yang mengatakan pembeli, bukan saya mengada-ada. Banyak yang dulunya suka Sate kambing beralih ke sini karena takut darah tinggi, dan ada yang suka Sate ayam tapi takut alergi," ujar Arbani bersemangat.
Pria yang pernah menjadi staf pengajar di salah satu MTs di Kabupaten Kediri mengaku, pilihannya menjajakan Sate di warung mulai membuahkan hasil manis. Dari awal membuka usaha hanya mampu menghabiskan 1 kg jamur, saat ini dalam sehari minimal 7 kg jamur bisa dihabiskan.
"Yang jelas hasilnya lebih besar dibandingkan sukuan (Tenaga GTT) di madrasah," pungkasnya sumringah.
Anda penyuka Sate dan tak ingin merasakan dampak negatif saat mengkonsumsi, tak ada salahnya menikmati Sate bahan dasar jamur tiram putih. Sebab rasanya dijamin tetap gurih senikmat daging kambing, ayam, sapi atau bahkan kuda. (fat/fat - Samsul Hadi - detikSurabaya)
Lihat juga :
Hanamasa
Dim Sum
Bila Anda warga Kediri bisa menikmati hidangan Sate jamur tiram putih, di depan Mapolsek Grogol, Kabupaten Kediri Jalan Raya Kediri-Nganjuk. Penjual menjajakan dagangannya menggunakan vespa yang dimodifikasi layaknya sebuah gerobak PKL.
"Dulu dengan vespa ini saya bisa jualan keliling, berhenti di mana saja saya suka. Tapi sudah hampir setahun ini saya menetap di sini, karena memang langganan mulai ada," kata Arbani, sang menjual Sate jamur tiram putih kepada detiksurabaya.com yang menemui di gerobaknya, Sabtu (23/10/2010).
Tentang Sate jamur tiram putih dagangannya, Arbani mengaku memulainya dengan menjual masakan jadi dari kantor ke kantor. Usaha ini merupakan pengembangan atas budidaya jamur tiram putih yang dilakukan di rumah. Dengan dalih omzet penjualan tak besar, dia memberanikan diri banting setir mengubahnya menjadi warung, dengan pengolahan Sate dilakukan berdasarkan pesanan.
"Cuman jamurnya saya rebus dan bumbui di rumah. Selebihnya mulai dari memotong, menusuk dan membakar saya lakukan berdasarkan pesanan," jelas Arbani.
Untuk manfaat mengkonsumsi Sate jamur tiram dagangannya, Arbani mengklaim tidak menghadirkan penyakit berbahaya bagi yang mengkonsumsinya. Selain diolah secara higienis, jamur tiram merupakan jenis tanaman dipastikan beda dengan daging yang dapat dipastikan mengandung kolestrol tinggi.
Harga Sate jamur tiram putih juga sangat terjangkau oleh semua kalangan, karena dijual seharga Rp 5.000 untuk setiap porsi.
"Ini yang mengatakan pembeli, bukan saya mengada-ada. Banyak yang dulunya suka Sate kambing beralih ke sini karena takut darah tinggi, dan ada yang suka Sate ayam tapi takut alergi," ujar Arbani bersemangat.
Pria yang pernah menjadi staf pengajar di salah satu MTs di Kabupaten Kediri mengaku, pilihannya menjajakan Sate di warung mulai membuahkan hasil manis. Dari awal membuka usaha hanya mampu menghabiskan 1 kg jamur, saat ini dalam sehari minimal 7 kg jamur bisa dihabiskan.
"Yang jelas hasilnya lebih besar dibandingkan sukuan (Tenaga GTT) di madrasah," pungkasnya sumringah.
Anda penyuka Sate dan tak ingin merasakan dampak negatif saat mengkonsumsi, tak ada salahnya menikmati Sate bahan dasar jamur tiram putih. Sebab rasanya dijamin tetap gurih senikmat daging kambing, ayam, sapi atau bahkan kuda. (fat/fat - Samsul Hadi - detikSurabaya)
Lihat juga :
Hanamasa
Dim Sum
Langganan:
Postingan (Atom)